Bab VII
The Real Tolerance of
SD YPPI Perawang-Riau
Tak terasa sampai hari ini, sudah 14 tahun lebih saya menjadi guru tetap yayasan di SD YPPI Perawang. Meskipun lokasinya cukup jauh dari Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi, namun sekolah ini cukup dikenal di wilayah Riau, terlebih di kabupaten Siak.
Yang
membuat sekolah ini cukup dikenal sekaligus disegani, karena segudang prestasi
yang telah ditorehkan oleh para siswanya, terutama dalam bidang akademik.
Setiap
tahunnya selalu ada siswa SD YPPI yang lolos seleksi olimpiade matematika atau
sains, mulai tingkat kabupaten sampai tingkat nasional. Bahkan, beberapa kali
menyabet medali di ajang olimpiade tingkat nasional. Padahal, persaingan untuk
lolos, sangatlah berat dan ketat.
Lawan-lawannya pun banyak dari sekolah-sekolah
elit dan ternama, terutama yang ada di Pekanbaru seperti, SD Santa Maria, SD
Global, SD Al Azhar, SD Darma Yuda, SD Islam Al Ittihad, SD Cendana Chevron, SD
Mutiara Duri dan masih banyak lagi sekolah bagus lainnya.
SD
YPPI sendiri bisa dibilang bukan termasuk sekolah elit, bila dilihat dari segi
fasilitas yang dimiliki dan dari besaran uang SPPnya. Fasilitasnya, memang bisa
dikatakan lengkap, tapi tidak mewah. Bahkan, boleh dibilang standar.
Sementara
uang SPP bulanan siswa, tidak mahal untuk ukuran sekolah swasta di daerah Riau.
Bahkan, sekolah-sekolah swasta lain, banyak yang jauh lebih mahal.
1
Januari 2007, pertama saya mengajar di SD YPPI. Untuk diterima menjadi guru di
sekolah ini cukup sulit. Yang namanya’KKN’ tidak berlaku di sini.
Proses seleksi terdiri dari dua tahap. Pertama, tes psiklogi secara tertulis dan kedua, tes wawancara langsung. Ketika sesi wawancara, ada enam orang yang hadir mewawancarai saya. Tiga orang dari pihak yayasan, kepala sekolah SD,

Dokumen Pribadi: Pemberian penghargaan dari Dinas Pendidikan kabupaten Siak kepadaTim Olimpiade SD YPPI mewakili Kab. Siak untuk tingkat Provinsi Riau.
(Tim olimpade Matematika dam Sains didampingi Kepala Sekolah & Guru Pembina. Mereka para pemenang olimpiade matematika dan sains tingkat Kabupaten Siak tahun 2018, sekaligus mewakili kabupaten Siak untuk tingkat Provinsi. Salah seorang lolos ke tingkat Nasional di Kota Padang Sumatra Barat).
kepala Sekolah SMP dan kepala
sekolah SMP. Masing-masing mengajukan pertanyaan kepada saya, mengenai berbagai
hal yang berkaitan dengan pendidikan, termasuk soal gaji.
Menurut
salah seorang panitia seleksi, hasil tes akan diberitahukan seminggu kemudian.
Jika dalam satu minggu tidak dikontak, berarti tidak diterima. Al hamdulilah,
baru tiga hari, datang seseorang mengantarkan sebuah surat ke kontrakan adik
saya, tempat saya menumpang sementara.
Ketika
saya buka surat itu, isinya menyatakan bahwa saya diterima sebagai tanaga
pendidik di yayasan tersebut. Sebelum dikeluarkan SK tetap yayasan, selama enam
bulan saya harus menjalani masa percobaan. Bila dinilai kurang memadai, bisa
saja SK tersebut tidak dikeluarkan atau tidak jadi diterima. Jadi, selama masa
percobaan ini, bisa dikatakan posisi belum aman.
1
Januari 2007, Senin pagi, pertama saya masuk sekolah. Kegiatan pertama saya
mengikuti upacara bendera. Saya berdiri di barisan para guru, menghadap barisan
para siswa. Sejenak saya terkesima menyaksikan begitu banyaknya siswa.
Pak
Agus, salah seorang guru yang berdiri di samping saya, seolah tahu saya sedang
terkesima dengan jumlah siswa sebanyak itu. Lalu, ia berbicara pelan dekat
telinga saya, “ini baru setengahnya pak Ahmad, ini baru shift pagi kelas 4,5
dan 6. Setengahnya lagi nanti shift siang, kelas 1,2 dan 3.” Mendengar
informasi dari pak Agus tadi, saya semakin terbelalak sambil menggelengkan
kepala.
Jumlah
siswa SD YPPI saat itu mencapai 2400 siswa. Terdiri dari dua shif seperti yang
diceritakan pak Agus tadi. Shif pagi mulai pukul 07.00 sampai pukul 12.15 kelas
4-6 dan shif siang mulai pukul 13.00 sampai pukul 17.15 kelas 1-3.
Setiap
tingkat ada 11 rombel atau kelas dan setiap kelas berjumlah rata-rata 37 siswa.
Sedangkan gurunya, di luar tenaga kependidika berjumlah 72 orang.
Saya
tidak tahu, apakah di Indonesia, ada Sekolah Dasar yang siswanya melebihi
jumlah siswa yang dimiliki oleh SD YPPI ini? Yang pasti saat itu, di Provinsi
Riau, inilah Sekolah Dasar/SD dengan jumlah siswa terbanyak.
Seiring
berjalannya waktu dan terkait peraturan pemerintah, dalam hal ini peraturan
Mendiknas, Selama lima tahun terakhir, penerimaan siswa baru setiap tahunnya
berangsur dibatasi. Tujuannya, untuk mengurangi jumlah rombel dan jumlah siswa
per kelasnya.
Jadi,
selama lima tahun terakhir ini, secara bertahap jumlah rombel maupun jumlah
siswa per kelas mulai berkurang. Kalau di awal-awal saya masuk, jumlah rombel
atau kelas mencapai 67 kelas, dengan jumlah siswa per kelasnya rata-rata 37
orang dan total jumlah siswa mencapa 2400 orang, maka saat ini (2021), sekolah
ini hanya memiliki 42` rombel, dengan jumlah siswa per kelas rata-rata 26
siswa. Sedangkan total jumlah siswa sekitar 1000 siswa. Bahkan, kabarnya, masih
akan ada pengurangan untuk satu, dua tahun kedepan.
Akibat
dari pengurangan siswa ini, tentu saja berdampak pada jumlah rombongan
belajar/rombel atau kelas. Berkurangnya jumlah kelas berakibat berkurang banyak
jumlah jam mengajar.
Hal
ini tentu menyebabkan kelebihan guru. Konsekuensinya, selama lima tahun
terakhir ini, harus ada dua atau tiga orang guru yang dirumahkan setiap
tahunnya.
Jadi,
dalam menjalankan tugas, saya dan teman-teman guru yang masih dipertahankan,
merasa was-was dan tidak tenang. Terkadang menjadi beban pikiran,
jangan-jangan, tahun depan dapat giliran dirumahkan alias dipecat.
Itulah
nasib guru swata. Kapanpun tidak dibutuhkan, bisa langsung diberhentikan. Jadi,
bagi yang merasa sering tidak hadir dan kinerjanya kurang bagus, harap
bersiap-siap angkat kaki dari sekolah ini, meskipun masih betah.
Dokumen pribadi. Tim Pengajar SDS YPPI Perawang
Kab. Siak Riau.
Dokumen pribadi. Tim Pengajar SDS YPPI Perawang Kab. Siak Riau.
Apapun
ceritanya, saya merasa beruntung dan bersyukur bisa bergabung dengan keluarga
besar Yayasan Pendidikan Persada Indah/YPPI Perawang. Selain itu, saya juga
beruntung bisa menjadi guru di daerah kabupaten Siak-Riau.
Adapun yang menjadi alasan utamanya adalah,
karena saya digaji dengan layak. Selain gaji bulanan, yayasan memberi THR
sebulan gaji setiap hari raya. Kemudian sebelum peraturan harus bergabung
dengan BPJS, saya mendapat asuransi kesehatan yang layak, jaminan sosial tenaga
kerja, dana pensiun dan SHU koperasi sekolah setiap tahun.
Selain
semua yang didapatkan dari yayasan tersebut di atas, saya pun mendapat
tunjangan dari Pemda kabupaten Siak, yang bernama dana rombel. Kalau dulu,
namanya honor daerah.
Dana
ini merupakan bantuan rutin Pemda Siak untuk sekolah-sekolah swasta. Adapun
jumlahnya, tergantung banyaknya jumlah rombel yang dimiliki oleh sebuah
sekolah.
Saya
menilai, Pemda kabupaten Siak sangat fokus dalam peningkatan bidang pendidikan,
kesehatan dan bidang keagamaan. Khusus untuk bidang pendidikan dan keagamaan,
sudah cukup banyak program dan kucuran dana yang dikeluarkan. Bahkan, tidak hanya guru yang mengajar
di sekolah-seklah formal saja, tetapi semua guru yang mengajar di MDA/MDTA/TPA,
takmir/garim masjid, semua mendapat tunjangan dari Pemda Siak, asalkan
identitas yang bersangkutan tercata namanya.
SD
YPPI merupakan sebuah yayasan yang bernaung di bawah PT. Indah Kiat Pulp &
Paper (Grup Sinar Mas). Saat ini yayasan membawahi empat unit jenjang
pendidikan, mulai TK, SD, SMP dan SMK.
Saya sendiri ditempatkan di SD. saya mengajar
Pendidikan Agama Islam bersama enam orang guru agama Islam yang lain (saat ini tinggal
5 orang). Selain itu saya mengajar muatan lokal Arab Melayu dan terkadang
diperbantukan mengajar materi bahasa Inggris.
SD
YPPI merupakan sekolah dasar umum. Siswanya terdiri dari berbagai suku dan
agama, seperti suku Minang, suku Batak, suku Jawa, suku Melayu dan etnis
keturunan Cina. Sedangkan berdasarkan agama, terdiri dari Islam, Budha dan
Kristen. Adapun penganut mayoritas, siswa beraga Islam.
Dalam
pergaulan sehari-hari, para siswa yang berlainan suku dan agama itu, berbaur
menjadi satu. Komposisi dalam kelas pun becampur. Ada yang tiga agama sekaligus
dalam satu kelas, ada yang dua agama dan ada yang satu agama saja. Semuanya,
tergantung pada kondisi.
SD
YPPI mengangkat guru agama dari semua agama yang ada di sekolah tersebut.
Seluruh guru agama, baik guru agama Islam, Kristen maupun Budha, sering
berkumpul bersama jika menghadapai hari-hari besar keagamaan. Kadang-kadang
diselingi makan bersama dan bersenda gurau. Menurut saya, ini sebuah
pemandangan yang jarang ditemukan.
Jika
masuk jam pelajaran agama, untuk siswa yang beragama Islam, belajar agama tetap
di dalam kelas atau di mushalla. Sementara yang beragama Kristen dan Budha
masuk ke ruang agama masing-masing yang sudah disediakan oleh pihak sekolah.
Ketika
terjadi perselisihan atau pertikaian di antara siswa, hampir tidak pernah
disebabkan oleh masalah agama atau suku. Perselisihan terjadi biasanya
disebabkan oleh hal-hal yang bersifat umum, seperti mengejek nama orang tua
atau karena dorong-dorongan yang umumnya terjadi pada anak-anak.
Saya,
bersama guru agama yang berlainan agama, memang sepakat untuk bertindak tegas,
terhadap siswa yang berselisih karena agama dan suku.
Setiap hari Jum’at pagi, Sekolah mengadakan siraman rohani, biasa disingkat SR. Seluruh siswa yang beragama Islam, duduk rapi di halaman sekolah. Yang laki-laki, duduk rapih sesuai kelas masing-masing di bagian depan. Sementara yang
perempuan, duduk seperi yang
laki-laki di bagian belakang. Acara bervariasi, kadang membaca yasin berjamaah,
membaca shalawat nabi, membaca dzikir, penampilan puisi, lagu religi, tilawah,
tahfidz serta mendengarkan tausiah dan nasihat dari guru. Suara lantunan
shalawat dan dzikir pun terdengar menggema.
Di
dalam ruangan agama Kristen, juga dilakukan hal yang sama sesuai ajaran dan
keyakinan mereka. Lagu-lagu rohani dilantunkan dengan nyaring dan penuh semangat.
Sementara, di sampingnya, di ruangan agama Budha, sedang dibacakan
kalimat-kalimat suci mereka dengan suara nyaring juga, sambil merapatkan kedua
telapak tangan dan memejamkan mata.
Ketika
saya tidak sedang bertugas mengisi acara siraman rohani, sesekali saya
berkeliling untuk mengamati kegiatan. Dari tengah lapangan sekolah, terdengar
gemuruh suara siswa-siswa yang beragama Islam sedang membacakan shalawat atau
dzikir. Lalu, ditimpal dengan suara lantunan lagu-lagu rohani siswa-siswa yang
beragam Kristen. Para siswa yang beragama Budha pun, tidak mau ketinggalan,
mereka membacakan kalimat suci dengan suara nyaring juga. Semua saling
bersahutan karena jarak mereka berdekatan.
Saya
rasa ini sebuah pemandangan spiritual yang luar biasa. Meskipun mereka berbeda,
namun mereka mampu menampilkan harmoni kedamaian dan sebuah tontonan mulia yang
jarang ditemukan di tempat lain.
Hasil
olimpiade matematika tahun 2018/2019 tingkat Provinsi Riau, alhamdulillah,
ketiga-tiganya diwakili siswa SD YPPI yaitu Keila, Melani dan Nicholas. Keila
yang juga anak kandung saya, keturunan suku Sunda beragam Islam, Melani,
keturunan Cina beragam Kristen, sementara Nicholas, keturunan Cina beragama
Budha. Meskipun mereka berbeda latar belakang suku dan agama, mereka tidak pernah
berselisih masalah agama. Mereka hidup rukun dan damai.
Menjelang
olimpiade tingkat Provinsi Riau, Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, mengundang
mereka bertiga, untuk melakukan pembinaan di kota Siak selama satu minggu. Untuk
pembinanya, didatangkan seorang dosen dari Universitas Riau. Dosen tersebut sudah
berpengalaman menangani team olimpiade matematika.
Di
Siak, mereka bertiga tinggal di sebuah hotel dan didampingi oleh guru pembina,
pak Surya Saputra. Keila, satu kamar dengan Melani. Sementara Nicholas satu kamar
dengan salah seorang peserta olimpiade bidang sains, yang kebetulan anak
laki-laki.
Ketika
saya dan istri berkunjung ke sana, mereka bercerita, setiap hari Melani
mengingatkan keila untuk shalat. Bahkan, ia setiap hari membangunkan Keila untuk
shalat subuh.
Begitulah
sikap toleransi yang diwujudkan dalam sikap keseharian. Sungguh betapa indah
dilihatnya. Dari ketiga siswa itu, alhamdulillah, Nicholas lolos tingkat Provinsi
dan sekaligus mewakili Provinsi Riau untuk olimpiade tingkat nasional, yang
diselenggarakan di kota Padang Provinsi Sumatra Barat.
Inilah
wujud sikap toleransi yang sesungguhnya. Ya, inilah the real tolerance, yang benar-benar nyata diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekedar retorika penghias bibir dan juga
bukan kumpulan teori basi.
Dulu,
semasa saya masih kecil, saat masih sekolah di SD, di kampung halaman,
toleransi diajarkan hanya sebatas pada buku pelajaran tentang kerukunan umat
beragama. Sementara realitanya, saya sebagai anak muslim, tak pernah dan sulit
bergaul dengan orang-orang non muslim.
Saya
lihat, kehidupan sudah terkotak-kotak seolah tersekat oleh tembok yang kokoh.
Anak-anak yang beragama Kristen, sekolah di komunitas mereka sendiri. Demikian
juga dengan anak-anak yang beragama Islam, Hindu dan Budha. Sekolah-sekolah
negeri hampir kebanyakan dipenuhi oleh siswa-siswa yang beragama Islam.
Orang-orang
keturunan Cina, punya komunitas sendiri dalam berbagai hal. Demikian juga di
lingkungan masyarakat, semuanya serba terkotak-kotak. Tidak pernah ada
pembauran seperti yang kulihat di tanah Melayu ini, khususnya di kota Perawang.
Satu
hal yang membuat hati ini teriris bercampur marah, saat saya menyaksikan
prilaku, yang justru kontadiktif dengan suasana yang sudah terbangun di sekolah
ini.
Prilaku
yang dimaksud, berupa seringnya muncul orang-orang yang tidak bertanggung jawab
melecehkan simbol-simbol agama. Pelecehan-pelecehan itu dipublikasikan lewat
media sosial, yang tentu saja mudah diakses oleh para siswa.
Yang
lebih menyedihkan lagi, ada semacam sikap pembiaran dari pihak yang berkuasa.
Selain itu, ada kesan kurang tegas aparat terhadap terhadap pelaku-pelaku
pemecah belah bangsa ini.
Bila
sikap pembiaran oleh penguasa dan kurang tegasnya aparat berwenang terhadap
prilaku pelecehan agama, seperti yang sudah-sudah, saya khawatir, nilai-nilai
toleransi yang sudah saya bangun dengan susah payah, bersama teman-teman lintas
agama di tempat saya mengajar, akan sia-sia semuanya dan tak berarti apa-apa.
Ibarat sebuah pohon yang sudah dipupuk, disiram dan dirawat sejak kecil,
ternyata, ketika sudah tumbuh besar, ia dirusak, dipatahkan bahkan ditebang.
( Memoar adalah sepenggal
perjalanan hidup seseorang/tokoh. Demikian juga tulisan ini merupakan sepenggal
atau satu episode perjalanan hidup penulis. Harpan penulis, semoga memoar
sederhana ini dapat bermanfaat dan memberi inspirasi buat sahabat "KItabisa")
Nantikan Memoar: Tangisan itu
Berujung Senyuman Part 8 /Part terakhir dengan judul :
Dalam Sehari Makan di 3 Negara
Kontak
Penulis/Blogger : 0822 8379 0651